shiafrica.com

Cerita Raja Belgia Ngiler Masakan Jawa Tapi Berakhir Kepedasan

Insight

Cerita Raja Belgia Ngiler Masakan Jawa Tapi Berakhir Kepedasan

Entrepreneur - MFakhriansyah, Indonesia
04 May 2024 16:30
Raja Leopold III. (AP Photo) Foto: Raja Leopold III. (AP Photo)

Jakarta,  Indonesia - Kuliner Indonesia sudah sejak lama go-international. Banyak orang kepincut untuk menikmati lezatnya kuliner Indonesia. Salah satunya adalah Raja Leopold III dan Ratu Astrid dari Kerajaan Belgia yang bertakhta dalam kurun 1934-1951. 

Ketertarikan Raja Leopold III terhadap kuliner Indonesia terjadi saat dirinya melakukan kunjungan kenegaraan ke Belanda pada 1935. Kala itu, di Belanda, khususnya di Den Haag,  memang sudah banyak restoran yang menjual masakan Jawa dengan menu beragam, seperti nasi, gado-gado, sambal, dan aneka macam sayur. Biasanya restoran Jawa didirikan oleh para babu, pelajar, dan eksil politik asal Indonesia (dahulu Hindia Belanda) yang tinggal di Belanda. 

Sejarawan Fadly Rahman dalam Rasa Tanah Air (2023) menjelaskan, sejak tahun akhir dekade 1920-an, makanan Indonesia sudah mendapat tempat di hati dan lidah orang-orang Eropa. Setidaknya ada lima restoran yang paling direkomendasikan oleh mereka, yakni Soeka Manah, Boeatan, J. Van Gemeert, Pak Bouman, dan Waroong Djawa. Restoran yang terakhir disebut berhasil menarik perhatian penguasa dari Belgia itu. 

Surat Kabar De Groundwet (30 April 1935) melaporkan bawa Raja Leopold III dan Ratu Astrid dari Belgia menyempatkan diri datang ke restoran tersebut. Mereka datang bersama rombongan dan meminta supaya tak ada pengawalan. Sang Raja ingin leluasa dan fokus menyantap masakan khas Indonesia. Rupanya, dirinya sudah kepincut dengan berbagai macam kuliner dari Tanah Air karena pernah berkunjung ke Indonesia. 

Setelah para pelayan yang kebanyakan dari Jawa menyajikan makanan, mereka tanpa basa-basi langsung menyantap masakan tersebut. Biasanya, restoran menyajikan menu makanan beraneka ragam, seperti nasi, ikan asin, sayur-sayuran, kerupuk udang, hingga sambal khas Jawa. Khusus menu terakhir, pasangan suami istri tersebut sampai membuat tantangan: siapa yang berani makan sambal paling banyak, dialah pemenangnya.

Tantangan tersebut diamini oleh semua rombongan sebab siapa juga yang berani menolak perintah raja. Namun, seluruhnya gagal kecuali Ratu Astrid. Diam-diam ternyata dia penikmat sambal yang bagi orang Eropa luar biasa pedas. 

"Sang Ratu akhirnya unggul dan para tamu lainnya berakhir dengan mulut setengah terbakar akibat terlalu banyak menyantap sambal," ungkap surat kabar tersebut, sebagaimana dipaparkan Fadly Rahman. 

Animo positif orang nomor satu di Belgia membuktikan bahwa kuliner Nusantara memang tiada dua. Bahkan, pernah pada 1931 di salah satu sentra kuliner dunia, yakni Paris, diadakan pameran internasional. Waroong Djawa yang didatangi oleh Raja Leopold III itu menjadi fokus perhatian ratusan ribu pengunjung.

Total ada 200.000 pengunjung dari negara-negara Eropa, seperti Prancis, AS, Jerman, Inggris, dan sebagainya, datang ke restoran tersebut hanya untuk menyantap masakan Jawa. Nasi, sayur-sayuran, kerupuk udang, dan sambal rupanya berhasil memanjakan lidah mereka. Kelezatan masakan Jawa itulah yang jadi pemantik tumbuh suburnya bisnis restoran Jawa di Belanda di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. 


[Gambas:Video ]

(mfa/mfa)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat