shiafrica.com

Punya Utang Tak Dibayar? Siap-Siap Ditahan di Penjara Bawah Tanah

Insight

Punya Utang Tak Dibayar? Siap-Siap Ditahan di Penjara Bawah Tanah

Entrepreneur - MFakhriansyah, Indonesia
04 June 2024 14:00
Kota Tua Sepi Karena Wabah Corona (Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Museum Fatahillah di kota tua (Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta,  Indonesia - Dalam kegiatan ekonomi, utang-piutang adalah hal wajar. Lalu, apa jadinya jika seseorang punya utang tapi tak dibayar?

Tentu bakal kesal, bahkan tak sedikit juga berujung pemenjaraan.

Kasus-kasus seperti ini bahkan menjadi kelaziman di zaman dahulu. Tak tanggung-tanggung, apabila seseorang tak bisa membayar utang maka akan masuk penjara bawah tanah.

Sadis, memang. Tapi, itulah kenyataan yang terjadi ratusan tahun lalu di Jakarta (dahulu Batavia). 

Kisah ini berlangsung pada tahun 1700-an atau sekitar 300 tahun lalu. Kala itu, seperti masa kini, utang-piutang lazim dilakukan di antara masyarakat.

Selain itu, ada juga utang yang diakibatkan oleh kebijakan pemerintah. Soal ini terjadi ketika pemerintah memaksa mengambil uang dari rakyat berkedok bayar pajak.

Jika tak dibayar, maka rakyat terhitung punya utang. 

Biasanya jika persoalan utang tak menemui titik terang, maka jalan terakhir akan selesai di meja hijau dan berakhir di balik jeruji besi.

Pemerintah kolonial dalam hal ini VOC sudah membangun penjara. Lokasinya berada di bawah gedung Balai Kota atau Standhuis.

Jadi, menurut Adolf Heuken di Tempat-tempat bersejarah di Jakarta (2008), bangunan atas Balai Kota berfungsi untuk administrasi dan pelayanan masyarakat. Sedangkan, bagian bawah berisi orang-orang kriminal.

Penjara tersebut memang tak hanya untuk para pengutang saja. Ada narapidana kasus lain.

Namun, menurut Zaenudin HM dalam Kisah-kisah "edan" seputar Djakarta tempo doeloe (2016), kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang tak bisa membayar utang, baik ke perseorangan atau pemerintah kolonial. 

Dalam catatan Alwi Shahab di Hukum Pancung di Batavia (2007), penjara bawah itu selalu penuh. Pada 1736, misalnya, ada 437 orang tahanan yang mayoritasnya adalah orang gagal bayar utang. Sedangkan untuk tahanan aksi kriminal, seperti pencurian dan kekerasan, jauh lebih sedikit. Para tahanan tersebut hidup menderita. 

Sudah pasti yang namanya ruang bawah tanah suasananya berbeda. Tak ada angin segar dan cenderung panas hingga lembab.

Untuk makanan pun mereka hanya diberi nasi dan air dingin. Akibatnya, dikabarkan mereka mengalami tekanan mental dan fisik.

Banyak di antara para tahanan mengalami luka-luka infeksi pada kaki akibat terlalu lama di dalam jeruji besi. Selain itu, ada juga yang stress karena proses pengadilan hingga mendapat putusan final membutuhkan waktu lama sementara mereka harus berada di penjara. 

Belum lagi, jika hari pengadilan tiba, maka suasana hati bakal makin tidak enak.

Biasanya, orang-orang yang dipenjara akibat utang memiliki masa hukuman cukup berat. Bisa seumur hidup dan tak terbatas. Paling sedikit bisa 6 tahun penjara. Jadi, bisa dibayangkan para pengutang harus berada berdiam diri di kondisi tersebut. 

Kini, penjara bawah tanah dan gedung Balai Kota sudah dialihfungsikan menjadi Museum Fatahillah yang berada di Kawasan Kota Tua. Beruntung pula di masa kini tak ada lagi orang yang dipenjara di bawah tanah akibat punya utang tak dibayar. 


[Gambas:Video ]

(mfa/sef)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat