shiafrica.com

Rupiah Dibuka Ambruk Lagi! Dolar Tembus Rp 16.300

Rupiah Dibuka Ambruk Lagi! Dolar Tembus Rp 16.300

Market - Tasya Natalia, Indonesia
12 June 2024 09:14
Petugas menghitung uang  dolar di tempat penukaran uang Dolarindo, Melawai, Blok M, Jakarta, Senin, (7/11/ 2022) Foto: Ilustrasi Dolar dan Rupiah. ( Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali dibuka ambruk sebagai antisipasi pelaku pasar terhadap rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) nanti malam.

Melansir data Refintiiv, pada pembukaan perdagangan pagi ini, Rabu (12/6/2024) mata uang Garuda melemah 0,09% menuju posisi Rp16.300/US$.

Depresiasi rupiah ini melanjutkan pelemahan yang sudah terjadi sejak Senin. Artinya, rupiah sudah mau tiga hari beruntun bergerak di zona merah.

Tekanan dolar yang masih kuat terhadap rupiah tampaknya masih terus membayangi. Indonesia memantau indeks dolar (DXY) sudah tiga hari ini menguat signifikan, akumulasinya mencapai lebih dari 1%.

Penutupan kemarin menguat 0,08% ke posisi 105,23 dan pada pagi ini masih berusaha menguat lagi. Jika DXY terus menguat makan tekanan terhadap rupiah masih bisa berlanjut.

Perlu dipahamui, kuatnya indeks dolar AS ini bukan tanpa sebab lantaran memang terpengaruh dari kehati-hatian pasar terhadap rilis inflasi negeri Paman Sam nanti malam, yang kemudian dilanjutkan pengumuman hasil rapat the Fed.

Sejauh ini, nada hawkish masih mendominasi pelaku pasar terhadap ekspektasi kebijakan moneter the Fed. Pasar memperkirakan kemungkinan besar suku bunga pada pertemuan pekan ini masih dipertahankan di level 5,25% - 5,50%.

Sementara penurunan suku bunga pertama kali kemungkinan akan terjadi mulai September mendatang. Perhitungan CME Fedwatch Tool, kini menunjukkan probabilitas pemangkasan suku bunga AS di September mencapai 48,3%.

Sementara itu, pada kemarin Presiden Joko Widodo malah mengatakan bahwa nilai tukar rupiah di kisaran 16.200-16.300 per dolar AS masih berada dalam posisi yang baik, serta menyebut bahwa semua negara mengalami tekanan nilai tukar mata uang terhadap dolar AS.

Komentar Presiden Joko Widodo tersebut rasanya jadi kontras dengan sikap Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, yang pada April 2024 meminta BUMN menunda pembelian dolar AS dalam jumlah besar guna mengurangi tekanan depresiasi rupiah.

INDONESIA RESEARCH


[Gambas:Video ]
Artikel Selanjutnya

Rupiah Tiga Hari Beruntun Keok, Dolar Tembus Rp16.250/US$!


(tsn/tsn)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat