shiafrica.com

Banyak Temuan Baru di Laut Dalam, Biaya Produksi Gas Bisa di Atas US$6

Banyak Temuan Baru di Laut Dalam, Biaya Produksi Gas Bisa di Atas US$6

News - Firda Dwi Muliawati, Indonesia
15 May 2024 20:50
Unit Produksi Terapung (Floating Production Unit/FPU) proyek IDD, Kalimantan, Indonesia. Doc. Chevron Foto: Unit Produksi Terapung (Floating Production Unit/FPU) proyek IDD, Kalimantan, Indonesia. Doc. Chevron

Jakarta, Indonesia - PT Pertamina (Persero) mengungkapkan biaya produksi gas bumi di masa mendatang akan meningkat jauh lebih tinggi daripada biaya saat ini. Biaya produksi gas diperkirakan bisa jauh di atas US$ 6 per juta British thermal unit (MMBTU).

SVP Strategy & Investment Pertamina Henricus Herwin mengatakan, semakin melonjaknya biaya produksi gas di masa depan karena dipicu semakin banyaknya temuan cadangan gas baru yang berlokasi di daerah terpencil, lepas pantai (offshore), dan bahkan di area laut dalam.

"Seperti yang Anda ketahui, banyak temuan migas baru ini terletak di lepas pantai dan sebagian besar berlokasi di laut dalam, yang menurut kami biaya pengembangannya akan jauh lebih tinggi dari US$ 6 per MMBTU atau US$ 6 per barel," jelasnya dalam acara The 48th IPA Convention & Exhibition (IPA Convex 2024), di ICE BSD City, Tangerang Selatan, Rabu (15/5/2024).

Seperti diketahui, beberapa temuan migas di lepas pantai Indonesia, antara lain proyek Lapangan Gas Masela di Maluku, Lapangan Jangkrik, Geng North, Indonesia Deepwater Development (IDD) hingga Blok Natuna.

Henricus menjelaskan, biaya eksplorasi migas terhitung lebih mahal bila dibandingkan dengan sumber energi lain, seperti batu bara.

Namun, dia menyebutkan biaya eksplorasi migas dihitung lebih murah bila dibandingkan dengan sumber energi alternatif lainnya.

"Memang benar bahwa eksplorasi memang lebih mahal dibandingkan batu bara, namun lebih murah dibandingkan alternatif lain. Dan lebih bersih dibandingkan batu bara dengan emisi 60% lebih rendah," tambahnya.

Sementara itu, seperti diketahui, sejak 2020 lalu pemerintah memberlakukan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang dipatok sebesar US$ 6 per MMBTU untuk konsumen akhir di 7 sektor industri.

Tujuh sektor industri yang mendapatkan harga gas murah tersebut yaitu industri pupuk, petrokimia, oleochemical, baja, keramik, kaca, hingga sarung tangan karet.

Kebijakan yang dijadwalkan berakhir pada akhir tahun 2024 ini kemungkinan masih akan dilanjutkan oleh pemerintah. Hal ini sempat diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif.

Arifin mengatakan, rencana dilanjutkannya program harga gas murah sebesar US$ 6 per MMBTU ini untuk bisa mendorong pertumbuhan di tujuh sektor industri tersebut. Terlebih, saat ini pemerintah juga tengah membangun infrastruktur gas.

"Ini (HGBT) insya Allah sih akan dilanjutkan. Dan kita juga sedang berupaya kan membangun lagi infrastruktur gas ya. Supaya memang bisa dimanfaatkan," jelasnya saat ditanya perihal kelanjutan HGBT setelah 2024, saat ditemui di acara Musrenbangnas, JCC Jakarta, Senin (6/5/2024).


[Gambas:Video ]
Artikel Selanjutnya

Top! Pertamina Temukan Cadangan Minyak Baru 1,4 Miliar Barel


(wia)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat