shiafrica.com

Ada Fenomena Eksodus & Pabrik Tutup di Jabar, Menperin Bilang Begini

Ada Fenomena Eksodus & Pabrik Tutup di Jabar, Menperin Bilang Begini

News - Emir, Indonesia
15 May 2024 21:40
Suasana sepi tanpa aktivitas pada pabrik yang sudah tidak beroperasi di Kawasan Berikat Niaga (KBN) Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (24/5/2023). Pabrik-pabrik di kawasan industri dan kawasan berikat dikabarkan banyak yang tutup. ( Indonesia/Faisal Rahman) Foto: Suasana sepi tanpa aktivitas pada pabrik yang sudah tidak beroperasi di Kawasan Berikat Niaga (KBN) Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (24/5/2023). Pabrik-pabrik di kawasan industri dan kawasan berikat dikabarkan banyak yang tutup. ( Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, Indonesia - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita buka suara mengenai fenomena pabrik tutup di kawasan Jawa Barat, dan berpindah ke Jawa Tengah atau Jawa Timur. Menurutnya keputusan perusahaan pindah karena perhitungan gaji untuk pekerja yang lebih murah.

"itukan masalah UMR, masalah kesediaan SDM dan lainnya. Jadi selama perpindahannya di dalam negeri sih ndak masalah," kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (15/6/2024).

Ia juga tidak memusingkan perpindahan pabrik ini, selama perusahaan tidak memutuskan untuk menempatkan pabriknya di luar negeri.

"Kalau dia pindah dari Jawa Barat ke Jawa Tengah, Jawa Barat ke Jawa Timur. Saya kira kita nggak terlalu masalahkan. Itu perhitungan bisnis dari masing-masing perusahaan," kata Agus.

Sebelumnya Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani juga menjelaskan banyaknya pabrik yang pindah, karena UMP/UMK untuk tenaga kerja daerah itu sudah terbilang mahal, sehingga memberatkan pelaku industri padat karya seperti garmen, tekstil, alas kaki.

"Kebijakan UM (upah minimum) di Jabar tergolong mahal atau berat untuk pelaku industri padat karya seperti garmen dan sepatu yang margin usahanya tidak sebesar industri manufaktur lain yg lebih sophisticated (mutakhir) seperti industri otomotif atau industri elektronik," kata Shinta kepada Indonesia, Rabu (15/5/2024).

Shinta mengakui bahwa tingkat upah minimum di Jawa Barat secara komparatif sudah tergolong mahal jika dibandingkan dengan provinsi lainnya di Jawa.

"Apalagi, di Jawa Barat juga terdapat historis yang panjang terkait konflik hubungan industrial, dimana beberapa konflik tersebut juga cukup violent (brutal), sehingga beberapa perusahaan merasa kurang nyaman. Ini juga turut menjadi faktor pendorong industri untuk pindah," jelasnya.

Sejak 2019, lanjut Shinta, pihaknya telah mengetahui bahwa sudah ada banyak industri manufaktur padat karya, khususnya yang bergerak di sektor tekstil dan garmen yang sedikit demi sedikit pindah ke Jawa Tengah, atau daerah lain di Jawa yang upah minimum-nya lebih terjangkau dibandingkan Jawa Barat.

Berikut Data Pabrik yang tutup di Jawa Barat :

Pabrik PT Sepatu Bata Tbk (BATA) di Purwakarta jumlah PHK 233 pekerja
Pabrik PT Hung-A Indonesia di Cikarang jumlah PHK 1.500 pekerja
Pabrik PT Dean Shoes di Karawang jumlah PHK kurang lebih 3.500 pekerja
Pabrik PT Besco Indonesia di Karawang jumlah PHK 4.000 pekerja
Pabrik PT Eins Trend di Purwakarta jumlah PHK 4.000 pekerja
Pabrik PT Matindo Wolrd di Sukabumi jumlah PHK 1.800 pekerja
Pabrik PT Simmone Accessary di Bogor jumlah PHK 1.000 pekerja
Pabrik PT Wiska Sumedang di Sumedang jumlah PHK sekitar 700-an pekerja


[Gambas:Video ]
Artikel Selanjutnya

Ngeri! Fenomena Tsunami Pabrik Tutup Mengintai Jawa Barat


(hoi/hoi)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat