shiafrica.com

Perang Saudara Tetangga RI Memanas, Militer Menyerah-Kabur ke Thailand

Internasional

Perang Saudara Tetangga RI Memanas, Militer Menyerah-Kabur ke Thailand

News - Tommy Patrio Sorongan, Indonesia
28 May 2024 21:25
Penembak di kendaraan lapis baja militer Thailand, saat dia berjaga di sepanjang sungai Moei, dekat Jembatan Persahabatan Thailand-Myanmar ke-2 di Mae Sot di provinsi Tak Thailand pada Sabtu, 13 April 2024. Menteri Luar Negeri Thailand pada hari Jumat mengatakan dia telah mendesak Otoritas militer Myanmar tidak akan memberikan tanggapan keras atas hilangnya kota perdagangan perbatasan yang penting oleh tentaranya oleh lawan-lawannya, dan sejauh ini tampaknya mereka menahan diri. (AP Photo/Sakchai Lalit) Foto: Penembak di kendaraan lapis baja militer Thailand, saat dia berjaga di sepanjang sungai Moei, dekat Jembatan Persahabatan Thailand-Myanmar ke-2 di Mae Sot di provinsi Tak Thailand pada Sabtu, 13 April 2024. (AP/Sakchai Lalit)

Jakarta, Indonesia - Situasi di Myanmar masih terus memanas. Pihak junta militer, yang melakukan kudeta kekuasaan sejak 2021 lalu, masih terus terlibat perang dengan pihak milisi etnis pro demokrasi.

Meski begitu, junta dilaporkan mengalami sejumlah kekalahan pekan lalu. Mengutip Radio Free Asia, sejumlah tentara Myanmar melarikan diri ke Thailand setelah kalah dalam pertarungan melawan milisi etnis minoritas Tentara Pembebasan Nasional Karen (KNLA) pada Jumat (24/5/2024).

Petinggi militer Thailand, Kolonel Nattakorn Reuntib, mengatakan bahwa para militer itu lari ke negaranya setelah kalah dalam pertempuran di wilayah Myawaddy, yang berada di selatan Negara Bagian Kayin.

"Ada 31 tentara Myanmar yang menyerah. Mereka dilucuti, diidentifikasi, dirawat dan sedang menunggu repatriasi melalui jalur pusat koordinasi perbatasan Thailand-Myanmar," ujarnya.

Myanmar berada dalam perang saudara sejak junta militer pimpinan Min Aung Hlaing mengkudeta pemerintahan sipil pada Februari 2021. Kudeta, yang terjadi pada bulan Februari 2021 memicu reaksi publik yang besar, dengan demonstrasi besar-besaran yang menolaknya, yang kemudian dibubarkan secara brutal.

Ini kemudian memicu reaksi keras dari beberapa milisi etnis di Negeri Seribu Pagoda. Mereka mulai melancarkan perlawanan terhadap rezim junta yang dianggap tidak demokratis.

Selain di wilayah perbatasan Thailand, militer junta juga mengalami kekalahan besar di wilayah Myanmar yang dekat dengan China. Milisi Tentara Kemerdekaan Kachin dilaporkan merebut delapan kota di Negara Bagian Kachin dan Negara Bagian Shan, serta mengambil alih 100 kamp militer junta.

Secara rinci, kamp terbesar yang berhasil direbut adalah kamp yang berada di dekat ibu kota Negara Bagian Kachin, Myitkyina. Hal ini pun memberikan Tentara Kemerdekaan Kachin kendali atas jalur perdagangan utama ke perbatasan dengan China.

"Kamp tersebut memberikan keamanan bagi desa-desa seperti Aung Myay 1 dan 2, serta kota Waingmaw. Jadi bisa dikatakan penting secara strategis," ujar petugas informasi Tentara Kemerdekaan Kachin, Kolonel Naw Bu.

Naw Bu menolak berkomentar mengenai korban di kedua pihak dalam pertempuran ini. Namun ia menegaskan bahwa situasi masih belum begitu aman sehingga pihaknya masih menutup jalan utama.

"Kami ditempatkan di sini, tapi kami belum mengizinkan mobil atau orang lain bepergian karena alasan keamanan," katanya.

Di sisi lain, junta juga belum mengeluarkan pernyataan apapun mengenai pertempuran tersebut.

Pasukan Kachin adalah salah satu dari beberapa pasukan yang memperoleh kemajuan signifikan baru-baru ini melawan kekuatan junta. Sebelumnya, mereka juga berhasil merebut beberapa kota dari kekuasaan militer.


[Gambas:Video ]
Artikel Selanjutnya

Perang Saudara Tetangga RI Makin Ngeri, Militer "Pecah"


(luc/luc)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat