shiafrica.com

Terungkap! Ternyata Ini Tragedi Besar yang Buat Dunia Islam Berubah

Insight

Terungkap! Ternyata Ini Tragedi Besar yang Buat Dunia Islam Berubah

Syariah - MFakhriansyah, Indonesia
13 April 2024 11:10
Kota Baghdad dan perkembangan ilmu pengetahuannya di masa Dinasti Abbasiyah. Foto: Sketsa 1001 Invention

Jakarta, Indonesia - Masa keemasan Islam terjadi di abad ke-8 dan ke-11 Masehi atau di era kekuasaan Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Sepanjang periode itu, muncul banyak ilmuwan dan filsuf yang pemikirannya jadi pondasi sains modern. Sebut saja seperti Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al-Khawarizmi dan sebagainya. Lalu, di saat bersamaan pula, banyak kota di Timur Tengah bermunculan jadi pusat pengetahuan. Salah satunya adalah Baghdad, Ibu kota kekhalifahan Abbasiyah.

Sejarah mencatat kota tersebut jadi saksi bisu keruntuhan Abbasiyah yang juga titik awal kemunduran dunia Islam. Fragmen terpenting dari masa-masa kemunduran tersebut adalah hancurnya Perpustakaan Baghdad oleh serangan Bangsa Mongol.

Perlu diketahui, Perpustakaan Baghdad dikenal juga sebagai House of Wisdom (Bayt al-Hikma). Mengutip situs Britannica, Perpustakaan Baghdad adalah institusi intelektual yang berdiri pada era Khalifah Al-Ma'mun (813-833 M). Khalifah Al-Ma'mun dikenal sebagai pemimpin yang sangat tertarik pada ilmu pengetahuan dan mempersembahkan dukungan besar untuk memajukan pengetahuan dalam berbagai bidang.

Selama berkuasa, dia memerintahkan agar karya-karya klasik Yunani dan India diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Hasil terjemahan itu ditaruh di Perpustakaan Baghdad. Berkat cara ini, Perpustakaan Baghdad pun menjadi tempat diskusi para ilmuwan lintas golongan dan agama selama berabad-abad.

Sayang, itu semua sirna pada tahun 1257. Sebagai catatan, saat itu Kekaisaran Mongol di bawah kuasa Mongke Khan sedang berjaya. Banyak negeri lain diserang dan dikuasainya. Salah satu yang jadi sasaran empuk serangan Mongol adalah Kekhalifahan Abbasiyah yang kebetulan sedang mengalami kemunduran.

Awalnya, suruhan Mongke, Hulagu Khan, meminta penguasa Abbasiyah, Al-Mustasim, untuk menyerahkan diri. Namun, akibat Al-Mustasim tak mau, pertempuran pun tak bisa dihentikan. Dalam perang yang dikenal sebagai Pengepungan Baghdad itu, militer Abbasiyah tak kuasa menahan serangan Mongol. Alhasil, tentara Mongol pun leluasa masuk ke dalam kota.

Mereka lantas membunuh ratusan ribu warga kota dan menjarah seluruh hartanya. Selain itu, sebagaimana diceritakan The House of Wisdom: How Arabic Science Saved Ancient Knowledge and Gave Us the Renaissance (2011), mereka juga melakukan perusakan, penjarahan, dan pembakaran terhadap isi dari Perpustakaan Baghdad.

Kejadian ini disebabkan karena bangsa Mongol lebih mementingkan harta dibanding khazanah ilmu pengetahuan. Praktis, semua yang ada di perpustakaan dirusak dan dihancurkan. Ribuan manuskrip berharga, hasil jerih payah para cendekiawan, dibakar atau dibuang ke Sungai Tigris.

Banyak cerita yang menyebut pembakaran dan pembuangan karya intelektual itu membuat Sungai Tigris berubah menjadi hitam. Bahkan, ada pula yang menyebut saking banyaknya buku yang dibuang bisa membentuk jembatan untuk menyeberangi sungai.

Fernando Baez dalam Penghancuran Buku Dari Masa ke Masa (2013) menyebut, kejadian musnahnya Perpustakaan Baghdad membuat hancur kebanggaan intelektual rakyat Baghdad. Dari sinilah, dunia kehilangan sumber pengetahuan yang selama ini memberi sumbangsih secara global.

Belakangan, serbuan bangsa Mongol dan berbagai tragedi yang mengikutinya menjadi salah satu pemantik keruntuhan Dinasti Abbasiyah setelah 5 abad eksis. Sekaligus juga menandai kemunduran Dunia Islam di ranah intelektual.


[Gambas:Video ]

(mfa/mfa)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat