shiafrica.com

Simak Tata Cara & Niat Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Simak Tata Cara & Niat Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Syariah - Dany Gibran, Indonesia
12 April 2024 11:00
Seorang penambang menyiapkan makanan sebelum berbuka puasa selama bulan Ramadhan, di kantor darurat 800 meter di bawah tanah tempat para penambang makan, di Tambang Trepca, di Stanterg, dekat Mitrovica, Kosovo, 14 Maret 2024. (REUTERS/Florion Goga) Foto: Ilustrasi penganan berbuka puasa. (REUTERS/Florion Goga)

Jakarta, Indonesia - Puasa enam hari di bulan Syawal merupakan amalan sunah yang dianjurkan setelah bulan Ramadan. Umat Islam yang ingin menjalankan puasa ini dapat memulainya dengan membaca niat puasa Syawal terlebih dahulu.

Menurut terjemahan kitab Fathal Muin oleh Bahrudin Fuad, puasa enam hari di bulan Syawal didasarkan pada hadits shahih yang menyatakan bahwa melanjutkan puasa bulan Ramadan dengan berpuasa selama enam hari di bulan Syawal seolah-olah berpuasa selama satu tahun penuh.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,


مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِنَّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْر

Artinya: "Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh." (HR Muslim)

Keutamaan puasa enam hari di bulan Syawal dijelaskan dalam kitab Bahjatun Naazhirin, di mana para ulama menyatakan bahwa menjalankan puasa tersebut bagaikan berpuasa selama setahun penuh. Hal ini karena setiap amal kebaikan dihitung dengan nilai sepuluh kali lipat.

Jika seseorang berpuasa Ramadan lalu melanjutkannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, totalnya akan menjadi tiga puluh enam hari. Jumlah ini, jika dikalikan dengan pahala sepuluh kali lipat, akan setara dengan tiga ratus enam puluh hari, atau sama dengan satu tahun Hijriah.

Tata Cara Puasa Syawal
Merujuk pada sumber sebelumnya, pelaksanaan puasa Syawal akan lebih utama jika dimulai setelah Hari Raya Idul Fitri. Hal ini menunjukkan keinginan kuat untuk segera melakukan ibadah yang disarankan. Meski begitu, puasa Syawal tetap dapat dilakukan kapan saja selama bulan Syawal masih berlangsung, karena Rasulullah SAW tidak menetapkan jadwal tertentu untuk puasa enam hari di bulan Syawal ini.

Abduh Zulfidar Akaha dalam bukunya "165 Kebiasaan Nabi" menjelaskan bahwa puasa Syawal bisa dilakukan mulai dari hari kedua Syawal hingga hari ketujuh secara berurutan, atau bisa juga dilakukan secara terpisah pada hari-hari lain selama bulan Syawal.

Tata cara puasa Syawal dimulai dengan niat. Berikut adalah bacaan niat puasa Syawal selama enam hari yang dikutip dari buku "Pintar Ibadah" karya Ustaz H. Fatkhur Rahman.

Niat Puasa Syawal 6 Hari


نَوَيْتُ صَومَ غَدٍ مِنْ يَوْمٍ شَوَّادٍ سُنَةٌ لِلهِ تَعَالى

Latin: Nawaitu shauma ghadin min yaumi syawwaalin sunna-tan lillaahi ta'aalaa.

Artinya: Aku berniat puasa besok pagi pada bulan Syawal, sunah karena Allah Ta'ala.

Kapan Waktu Melaksanakan Puasa Syawal?
Puasa enam hari di bulan Syawal dapat dimulai pada tanggal 2 Syawal, setelah perayaan Hari Raya Idul Fitri. Mengapa tidak dimulai pada tanggal 1 Syawal? Karena pada hari tersebut, umat Islam dilarang berpuasa karena sedang merayakan Hari Raya Idul Fitri. Selain itu, larangan berpuasa juga berlaku pada Hari Raya Idul Adha (10 Zulhijah) dan hari-hari Tasyrik (11, 12, 13 Zulhijah).

Hal tersebut bersandar pada hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata, "Rasulullah SAW melarang puasa pada dua macam hari, yaitu Hari Raya Idul Adha (10 Zulhijah) dan Hari Raya Idul Fitri (1 Syawal)." (HR Muslim)

Menurut Ensiklopedia Hadits Ibadah Shalat Sunnah karya Syamsul Rijal Hamid, ada riwayat lain yang diceritakan oleh Abi Ubaid Maula Azhar RA. Ia mengisahkan bahwa pernah menghadiri salat Id bersama Umar bin Khattab.

Lalu Umar RA berkhotbah dan menyampaikan pesan, "Sungguh pada kedua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) Rasulullah SAW melarang untuk berpuasa. Yakni satu hari untuk berbuka dari puasa kalian (maksudnya Hari Raya Idul Fitri) dan satu hari yang lain lagi adalah waktu kalian makan dan berhenti dari mengerjakan haji." (HR Jamaah Ahli Hadits)

Bolehkah Puasa Syawal hanya 3 Hari Saja?
Abdul Wahid dalam bukunya "Rahasia dan Keutamaan Puasa Sunah" menjelaskan bahwa puasa Syawal dilakukan selama enam hari. Beberapa ulama menyarankan agar puasa dilakukan selama enam hari berturut-turut tanpa jeda.

Namun, ada juga ulama yang berpendapat bahwa puasa Syawal dapat dilakukan secara terpisah-pisah, misalnya dua hari dalam setiap minggunya atau bergantian antara puasa dan tidak puasa. Metode ini mirip dengan tata cara puasa Daud.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Agus Arifin dalam bukunya "Step By Step Fiqih Puasa Edisi Revisi" mengutip pendapat madzhab Syafi'i yang menyatakan bahwa puasa enam hari di bulan Syawal termasuk puasa sunah. Para ulama Syafi'iyah menilai lebih utama jika menjalankan puasa ini secara berturut-turut, dimulai pada hari kedua atau tanggal 2 Syawal.

Namun, jika ingin melakukan puasa secara terpisah atau di akhir bulan Syawal, keutamaannya tetap sama. Para ulama yang berpendapat demikian merujuk pada hadits yang menyatakan bahwa puasa enam hari di bulan Syawal seperti berpuasa sebulan penuh.

Menurut buku "12 Bulan Mulia-Amalan Sepanjang Tahun" karya Abdurrahman Ahmad, puasa Syawal tidak boleh dilakukan pada hari Idul Fitri karena hari itu merupakan hari untuk menikmati hidangan dan minuman.

Bolehkah Puasa Syawal Sekaligus Qadha Puasa?
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait boleh tidaknya menggabungkan puasa Syawal dengan puasa qadha Ramadan. Perbedaan ini muncul karena perbedaan status hukum di antara keduanya; puasa qadha Ramadan bersifat wajib, sedangkan puasa Syawal bersifat sunah.

Pendapat pertama menyatakan bahwa menggabungkan puasa Syawal dengan qadha Ramadan hukumnya makruh. Dalam kitab *Mughni al-Muhtaj* dijelaskan bahwa seseorang yang meniatkan puasa di bulan Syawal sebagai qadha Ramadan hanya akan mendapatkan pahala qadha Ramadan, tanpa pahala puasa sunah Syawal atau keduanya.

Namun, ulama dari mazhab Syafi'i seperti Ibnu Hajar al-Haitami dan Syekh Ar-Ramli berpendapat bahwa menggabungkan puasa Syawal dengan puasa qadha Ramadan diperbolehkan dan tidak mengurangi pahala keduanya.

Pendapat lain menyarankan mendahulukan puasa qadha Ramadan karena itu adalah kewajiban, kemudian baru menjalankan puasa Syawal. Namun, seseorang juga boleh mendahulukan puasa Syawal jika waktu yang dimiliki terbatas. Hal ini dijelaskan dalam kitab *Fiqh as-Sunah li an-Nisa'* karya Abu Malik Kamal ibn Sayyid Salim yang diterjemahkan oleh Firdaus.

Bolehkah Puasa Syawal Digabung dengan Puasa Sunah Lainnya?
Dalam buku *Risalah Puasa* karya Sultan Abdillah, dijelaskan bahwa seseorang yang menggabungkan beberapa ibadah sunah diperbolehkan dan tidak menjadi masalah.

Ahli fikih Wahbah az-Zuhaili dalam kitab *Fiqhul Islam wa Adillatuhu* turut menjelaskan bahwa menggabungkan niat untuk dua ibadah yang sama-sama sunah adalah sah. Beliau memberi contoh, seperti berniat salat sunah fajar dan salat sunah tahiyatul masjid secara bersamaan.


[Gambas:Video ]
Artikel Selanjutnya

Awal Ramadan 1445 Hijriyah Versi Muhammadiyah: 11 Maret 2024


(miq/miq)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat